Mahasiswa Malaysia Belajar Batik

Tiga mahasiswa jurusan desain tekstil asal Universitas Teknologi MARA di Shah Alam, Selangor, Negara Malaysia, belajar membatik di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta selama lebih dari 2 bulan.

Mereka mempelajari semua gaya, teknik, pewarnaan, hingga corak batik Yogyakarta pada umumnya.

Mereka belajar di antara para perajin di Sembung Batik di Dusun Sembungan, Desa Gulurejo, Kecamatan Lendah, Kulon Progo.

“Mereka belajar keseluruhan dan saya terbuka mau ilmu yang mana. Silakan dipelajari sendiri,” kata pemilik Sembung Batik, Kang Girin, Minggu (11/3/2018).

Baca juga: Yuk Belajar Membatik dan Membuat Wayang Kulit di Kampung Sondakan

Selama hampir tiga bulan belajar, ketiganya menemukan betapa kuat seni batik Indonesia, baik itu dari sisi motif, filosofi, mau pun cara memproduksinya.

“Di Malaysia tidak tahu (apa) filosofinya, tetapi di sini kami baru (mengenal) mendalam tentang filosofi (lukisan batik),” kata Anis Syahirah.

Mahasiswi semester 5 itu mengatakan, selalu ada filosofi di balik motif-motif di Indonesia.

Contohnya air yang menandakan rezeki.

“Macam telur katak, maksudnya anak ramai. Bisa juga membuat filosofi sendiri,” kata Nurul Jannah, rekan Anis.

Geblek Renteng yang merupakan motif khas Kulon Progo menjadi salah satu contoh.

Geblek dianggap cemilan unik masyarakat. Ketika geblek menjadi motif, munculah kesan penghargaan besar warga pada daerahnya.

“Berbeda daerah berbeda motif dan filosofinya. Misalnya Sleman tentu ada sendiri,” kata Nurul.

Kekuatan motif batik yang filosofis itulah yang membedakan dengan Malaysia.

Corak pada batik Malaysia, kata Anis, dibikin sederhana.

“Kebanyakan bunga sedikit saja. Kalau Malaysia corak simpel dalam kain,” ujar Anis.

Perbedaan

Batik Malaysia dan Indonesia sangat berbeda.

Dari sisi jenis kain, batik tulis Malaysia banyak dibuat di kain sutera, sedangkan di Indonesia kebanyakan memanfaatkan kain katun.

Ukuran kain batik juga berbeda.

Kain yang dibatik memiliki lebar 4 meter dan bisa dibikin 1 setel pakaian, misalnya baju sekaligus rok. Sementara di negeri ini rata-rata 1 kain batik ukurannya 2 meter.

Cara melukisnya juga berbeda.

Pembatik Indonesia terkesan santai saat membatik, yakni sambil duduk, kainnya dipegang, dan sisi kain yang lain disampirkan pada gawang.

Sementara cara membatik di Malaysia, mereka melakukannya sambil berdiri.

Menurut Anis, cara yang berbeda ini terkait bahan malam.

Di Indonesia, bahan baku malam dianggap kuat, kukuh, dan memiliki daya rekat bagus pada kain. Itulah mengapa cara mencanting keduanya berbeda.

“Budaya di sini mencanting sambil duduk, lebih pada santai. Kalau di sana berdiri karena kekangan malamnya berbeda,” kata Anis.

Sementara itu, Nurliza (22) mengatakan, pemakaian batik di Malaysia tidak semasif di Indonesia, apalagi Yogyakarta.

Warga di Yogyakarta begitu bangga dengan batik sehingga cukup memukau ketika melihat segala usia memakainya saban hari.

“Kalau Malaysia pemakaiannya tidak banyak. Mereka hanya memakai batik di majelis yang besar. Di sini, batik begitu formal, semua orang pakai sampai anak sekolah juga,” kata Nurliza.

Itulah mengapa, menurut mereka, belajar batik di Indonesia dianggap begitu tepat.

Indonesia sebagai pusat batik dunia memiliki perjalanan panjang batik juga dalam hal teknik. Batik bukan sekadar mewarnai kain dan membuat motif, tetapi bagian dari budaya yang kental kehidupan masyarakat di dalamnya.

Ketiganya pun mempelajari seluruh teknik dan jenis motif daerah, termasuk teknik cap, pewarnaan, hingga mencanting.

Semua berawal 2,5 bulan silam. Ketiga mahasiswa tekstil desain ini berniat melakukan penelitian batik sekaligus wisata budaya.

Penelitian itu bagian praktek dan magang langsung ke para perajin. Diawali dengan mengirim e-mail ke para pengusaha batik di negeri ini.

Baca juga: Kegiatan Membatik Digelar Untuk Mengurangi Buta Aksara

Yogyakarta dipilih karena budaya kuat akan batik.

Dari banyaknya email, hanya Sembung Batik di Kecamatan Lendah yang membalas dan memperbolehkan ketiganya belajar batik.

Para Perajin Ini Tidak Membatik di Kain(Kompas TV)

Leave a Comment